Mengapa Manipulasi Gerakan Leher Dapat Menyebabkan Stroke?

0
60

Pada beberapa kasus yang jarang, manipulasi leher dapat menyebabkan stroke. Manipulasi adalah gerakan memutar leher dengan cepat yang sering menyebabkan suara letupan atau krek di area tersebut. Jenis manipulasi ini dipercaya dapat mengobati nyeri leher. Manipulasi dapat dilakukan secara mandiri atau secara klinis oleh terapis pijat, chiropractor, atau ahli osteopati.

Stroke akibat manipulasi leher ini terjadi akibat suatu kondisi yang disebut cervical artery dissection (CAD). Ini adalah kondisi dimana pembuluh darah leher anda robek. Ketika ini terjadi, darah mulai bocor ke dinding pembuluh darah yang robek. Saat darah bocor, ruang di dalam pembuluh darah tempat darah biasanya mengalir menjadi sempit atau bahkan tersumbat sama sekali, yang akhirnya menyebabkan stroke.

Bagaimana Gejala dari CAD?

Pada awalnya gejala umum akibat manipulasi leher lebih sering terjadi, seperti nyeri kepala atau nyeri leher dan wajah (terutama nyeri di sekitar mata). Gejala-gejala yang lebih serius dapat berkembang berjam-jam, berhari-hari, atau bahkan mencapai seminggu kemudian meliputi :

  • Gangguan penglihatan seperti penglihatan ganda atau kelopak mata turun,
  • Suara mendenging di salah satu telinga, yang dikenal sebagai tinnitus
  • Penurunan indera perasa dan/atau kelemahan secara tiba-tiba pada satu sisi tubuh.

Bila tidak segera tertangani, kondisi ini dapat berakhir sebagai stroke yang merupakan risiko paling serius dari CAD.

Penyebab Terjadinya CAD

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko terjadinya CAD. Risiko CAD spontan dan stroke tanpa manipulasi tulang belakang mungkin lebih tinggi pada orang yang memiliki :

  • Tekanan darah tinggi
  • Aterosklerosis
  • Displasia fibromuskular
  • Kondisi genetik tertentu yang mempengaruhi jaringan ikat, seperti sindrom Marfan atau sindrom Ehlers-Danlos

Selain akibat manipulasi leher berlebih, penyebab lain dari CAD dapat meliputi :

  • Kecelakaan
  • Terjatuh
  • Cedera saat berolahraga

Bagaimana CAD Didiagnosis ?

Computed Tomography Angiography (CTA) menjadi standar emas untuk digunakan pada pasien dengan gejala CAD. CTA adalah pencitraan non-invasif yang menggunakan teknologi computed tomography (CT) dan pewarna kontras untuk memberikan gambaran tiga dimensi arteri yang akurat pada layar komputer. Magnetic resonance angiography (MRA) adalah teknik pencitraan non-invasif lain yang sangat akurat yang dapat digunakan untuk mendiagnosis diseksi arteri serviks. MRA relatif lebih aman dibandingkan CTA karena tidak menggunakan radiasi. Doppler Ultrasonography (DUS) menggunakan teknologi ultrasound dan memiliki keunggulan cepat, non-invasif dan mudah digunakan. Karena teknologi pencitraan non-invasif ini semakin berkembang, saat ini penggunaan Digital Substraction Angiography (DSA) untuk mendiagnosis CAD semakin menurun.

Bagaimana Penanganan CAD ?

Dalam beberapa kasus, CAD tidak terdiagnosis hingga stroke terjadi. Ketika pasien datang ke rumah sakit dengan gejala CAD tanpa stroke, mencegah stroke adalah tujuan pengobatan utama. Pengobatan lini pertama untuk CAD adalah pemberian obat-obatan pengencer darah. Obat-obatan seperti aspirin atau clopidogrel dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi. Sebagai alternatif, pemberian antikoagulan baik heparin maupun warfarin juga dapat digunakan. Pasien yang tidak dapat menggunakan kedua obat ini, atau mereka yang terus memiliki gejala (seperti gangguan penglihatan atau kelemahan) meskipun telah mendapat terapi pengencer darah yang baik, mungkin memerlukan prosedur lanjutan. Prosedur angioplasti atau stenting adalah dua prosedur endovaskular yang digunakan untuk menangani CAD.

Terakhir diperbaharui : 01 April 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here