Mitos dan Fakta Seputar Stroke

0
80

Pada era kebebasan informasi seperti dewasa ini, banyak informasi yang diterima masyarakat tanpa disaring terlebih dahulu. Beberapa informasi yang diterima tersebut, ada yang benar tetapi tidak sedikit juga yang salah.

Informasi yang salah ini tentunya memberikan pemahaman yang buruk di masyarakat terutama di bidang stroke. Berikut adalah beberapa informasi tentang stroke yang salah dan sering beredar di masyarakat.

Stroke Hanya Terjadi pada Lansia

Berdasarkan angka statistik memang benar stroke lebih sering terjadi pada lansia. Akan tetapi stroke, baik penyumbatan atau perdarahan dapat terjadi bahkan sejak balita.

Beberapa gangguan pembuluh darah otak seperti arteriovenous malformation (AVM)atau moya-moya disease sering menimbulkan perdarahan pada usia anak-anak hingga dewasa muda.

Adapun gangguan irama dan katup jantung, serta gangguan kekentalan darah juga dapat menyebabkan stroke penyumbatan sejak usia muda

Menusuk-nusukkan Jarum pada Ujung Jari Tangan dapat Menolong Penderita Stroke

Beberapa tahun terakhir, beredar informasi secara luas di sosial media bahwa tindakan di atas dapat membantu pasien stroke.

Secara definisi, stroke adalah gangguan pembuluh darah yang terjadi pada otak, mata, atau sumsum tulang belakang. Serangan stroke tidak ada keterkaitan dengan pembuluh darah di jari-jari tangan.

Jadi menusukkan jarum pada ujung jari tangan dengan tujuan melancarkan aliran darah adalah informasi yang tidak benar.

Tindakan ini tidak memberikan manfaat dan dapat memberikan masalah baru pada pasien. Infeksi dapat terjadi pada jari-jari tangan yang terluka sehingga dapat memperburuk kondisi pasien stroke.

Stroke Tidak Dapat Dicegah

Berbeda dengan pendapat sebagian besar masyarakat yang mengatakan bahwa serangan stroke adalah suatu takdir, stroke adalah penyakit yang bisa dicegah.

Hampir seperempat kasus stroke terkait dengan pola diet yang tidak sehat, seperti konsumsi buah dan sayur yang kurang. Selain itu juga disarankan untuk rajin berolahraga setidaknya 30 menit selama 5 hari dalam seminggu.

Kita juga mengenal beberapa faktor risiko yang sering menyebabkan stroke. Jika anda memiliki riwayat hipertensi, diabetes, dislipidemia, atau gangguan irama jantung, sebaiknya anda segera berkonsultasi dengan dokter agar faktor risiko stroke ini dapat dikontrol.

Beberapa faktor risiko lainnya yang sering menyebabkan stroke adalah obesitas, kebiasaan merokok dan minum alkohol, serta mengorok.

Stroke Tidak Dapat Disembuhkan

Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahun dan teknologi, stroke berkembang dari suatu penyakit yang tidak bisa dilakukan apa-apa menjadi penyakit yang dapat disembuhkan.

Akan tetapi untuk mendapatkan hasil yang terbaik, penanganan stroke harus segera dilakukan terutama pada kasus-kasus stroke penyumbatan yang mencapai 80-85% dari total kasus stroke. Terapi stroke penyumbatan saat ini ada dua, yaitu trombolisis intravena dan trombektomi mekanis.

Trombolisis intravena dapat dilakukan hingga 4,5 jam sejak gejala stroke pertama kali dirasakan. Sedangkan trombektomi mekanis dapat dilakukan hingga 24 jam sejak gejala stroke pertama kali dirasakan.

Apabila dilakukan lebih dari waktu yang ditentukan, maka kemungkinan terjadinya komplikasi perdarahan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kemungkinan kesembuhan pasien

Stroke Bukanlah Penyakit Keturunan

Mitos ini juga sering berkembang dan memberikan informasi yang sesat di masyarakat.

Apabila anda memiliki orang tua, kakek-nenek, atau saudara kandung yang menderita stroke, maka anda memiliki risiko beberapa kali lipat lebih besar untuk terkena stroke.

Saat ini peneliti telah berhasil mengidentifikasi beberapa faktor genetik yang dapat menyebabkan stroke. Selain itu faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan stroke seperti diabetes dan hipertensi umumnya juga merupakan penyakit keturunan.

Terakhir diperbaharui : 28 Februari 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here